,Jakarta, (23/08) – Rendahnya harga rokok selama ini dinilai anggota komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin, telah merusak generasi muda dan membuat kesejahteraan petani tembakau mengalami stagnasi pada taraf yang masih rendah.

Indonesia, berdasarkan lansiran Global Post (pri.org) memiliki tarif harga rokok nomor 7 termurah di dunia setelah Pakistan, Vietnam, Nikaragua, Kamboja, Filipina dan Kazakhtan. Dengan murahnya harga rokok, hampir setiap warga baik anak maupun dewasa atau dari tidak mampu hingga orang yang berkecukupan dalam kehidupannya sangat mudah mendapatkan rokok dimanapun berada.

“Rencana kenaikan harga rokok yang sedang dibahas pemerintah melalui menteri keuangan dengan meningkatkan cukai hingga 8,18 triliun, akan membawa angin segar bagi petani tembakau yang berdampak positif bagi kesejahteraan mereka”, ucap Akmal yang juga anggota Badan Anggaran DPR ini.

Akmal mengatakan, pemerintah jangan hanya mengkaji peningkatan APBN dari cukai rokok tanpa menghitung kenaikan harga tembakau yang berhak diterima oleh petani. Rokok dan tembakau ini satu mata rantai yang tidak terpisah antara bahan baku dan produk akhir. Jangan sampai pemerintah mau ambil dana masyarakat dari rokok tapi lalai akan hak petani tembakau, ucap Akmal.

Politisi PKS dapil Sulawesi selatan ini mengharap, tingginya harga rokok yang akan diterapkan pemerintah akan mampu mengendalikan konsumsi rokok dari sisi usia dan dari sisi tingkat ekonomi masyarakat. Sehingga dengan keadaan ini, akan mampu memberikan dampak positif pada kualitas generasi muda Indonesia dimasa yang akan datang.

“Saya berharap pemerintah tidak masuk angin untuk mengurungkan niatnya menaikkan harga rokok. Ini bisa saja terjadi dari lobi para pengusaha rokok yang merupakan orang-orang terkaya di Indonesia yang memiliki aset terbesar di negara ini”, pungkas Andi Akmal Pasluddin.

Facebook Comments

NO COMMENTS

Leave a Reply